Dapat Kalpataru, Rusmarini Persembahkan Untuk Ibunya Yang Dirawat Di ICU

GIANYAR - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) mengumumkan Penghargaan  Kalpataru 2020 pada Senin (21/12/2020).

Salah satu yang menerima penghargaan tersebut adalah pensiunan ASN asal Ubud, Gianyar, Bali bernama Ida Ayu Rusmarini.

Ia menerima penghargaan Kalpataru dalam kategori Pembina Lingkungan.

Rusmarini mengaku sangat bahagia dan menurutnya penghargaan ini juga berkat doa dari orangtuanya yang ingin anak-anaknya selalu bahagia

Penghargaan ini juga ia persembahkan kepada ibunya yang saat ini masih dirawat di ICU salah satu rumah sakit di Bali.

"Saya bisikin kemarin saya dapat kalpataru. Nangis ibu saya, dan saat saya menerima penghargaan ternyata ibu saya membaik. Ini karunia Tuhan buat saya, ini doanya mungkin," katanya saat dihubungi, Selasa (22/12/2020).

Rusmini menerima Kalpataru karena mengembangkan budidaya tanaman obat-obatan dan tanaman upakara.

Ia mulai mengumpulkan tanaman obat atau usada Bali dan tanaman untuk upakara sejak 33 tahun silam.

Hal ini ia lakukan karena saat itu ia melihat anak-anak muda banyak yang tak mau mengenal tanaman obat dan upakara.

"Sedangkan jenis tanaman ini sangat dibutuhkan di Bali, untuk upakara dan obat," katanya.

Tanaman tersebut seperti kuanji, delima hitam, kecubung hitam, sidaguri, jelengket, mundeh, hingga tanaman badung.

Tak ingin warisan leluhurnya ini hilang, ia memutuskan melestarikan tanaman-tanaman langka ini.

Ia kemudian mulai serius belajar tentang manfaat tanaman-tanaman ini melalui berbagai literatur seperti tulisan-tulisan tentang pengobatan tradisioanal Bali.

Setelah itu, ia kemudian mulai menanam di lahan seluas 1,3 hektare di rumahnya di Banjar Tumon, Desa Singakerta, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar.

Ia juga mendirikan Yayasan Puri Damai, dan melibatkan partisipasi aktif perempuan dalam menjaga warisan leluhur.

Pada awal memulai, rupanya banyak anggota keluarga yang protes mengapa ia menanam tanaman yang dianggap tak bermanfaat.

Namun dengan sabar ia menjelaskan bahwa tanaman-tanaman tersebut memiliki manfaat masing-masing.

Rusmini terus mengembangkan kebunnya tersebut.

Dari 20 tanaman, kini total ada 388 jenis tanaman di kebunnya.

Kini kebunnya kerap menjadi rujukan anak-anak sekolah untuk belajar mengenal tanaman usada dan upakara Bali.

"Saya ikut senang ya, apa yang saya pelajari bermanfaat bagi mereka," kata dia.

Selain itu juga ada unit pengolahan tanaman dan terapi penyembuhan herbal yang pasiennya tak hanya dari lokal, tetapi juga dari mancanegera.

Selain itu, di kebunnya ini ia juga aktif memberikan pengetahuan-pengetahuannya kepada perempuan-perempuan yang ingin belajar.

Menurutnya, ia lebih fokus mengajari perempuan karena dinilai paling sensitif masalah lingkungan.

Kemudian perempuan yang dibinanya biasanya yang sedang terpuruk. Mereka dibantu agar bangkit dalam menjalami kehidupannya.

"Janda, lansia, yang cerai ini yang saya pilih. Biar mereka mempunyai arti dalam hidupnya," kata dia.

Mereka diajari agar bisa mengolah sendiri tanaman obat tersebut.

Pendidikan anak

Kreativitas Dayu rupanya tak berhenti soal tanaman dan manfaatnya.

Sekitar tahun 2010, ia didukung suaminya, I Wayan Damai membuka program pendidikan anak usia dini.

Saat awal terbentuk, hanya ada tujuh siswa dan kini sudah mencapai 68 siswa.

Alasan dibangunnya Paud dan Taman Kanak-kanak ini adalah untuk mengajarkan anak mengenal alam dan lingkungan sejak kecil.

"Suami saya juga mendukung untuk mengedukasi mereka tentang alam sejak dini," kata dia.

Keunggulan sekolah ini adalah anak-anak diajak langsung belajar di alam.

Misalnya anak-anak belajar di bawah pohon, menanam bibit, hingga membesarkan tanaman.

Para siswa di sini juga mengonsumsi makanan dan minuman yang benar-benar sehat yang disediakan sekolah.

"Semakin jadi idola TK ini karena anaknya sehat tak harus dikungkung. Mereka bermain di alam dan ternyata ini pendidiknya sangat bagus," kata dia.

Awalnya bercita-cita jadi dokter

Rusmarini awalnya bercita-cita menjadi dokter.

Ia terobsesi menjadi dokter sejak kanak-kanak.

Hal ini karena ia ingin seperti ayahnya, Tjening Kerana, yang juga seorang dokter.

Namun, saat saat mendaftar di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana ia tidak diterima.

Sehingga Rusmarini memilih belajar di Fakultas Pertanian di universitas yang sama.

Meski demikian, kedua orangtuanya terus mendukung putrinya dan minta terus mencintai dan selalu memperhatikan lingkungan sekitar.

"Beliau (ayah) berharap saya bisa membantu masyarakat yang memerlukan dan juga nggak terlepas dari cinta kasih anak kami yang silih berganti membantu kebutuhan kami di lapangan," kata dia.

[Source: Kompas]