[Biografi Tokoh Dunia] Ole Kirk Christiansen Dan Usaha Pantang Menyerah Membangun LEGO

GLOBAL – Masa Natal dan liburan akhir tahun di Negara Barat sejak lama dimeriahkan dengan tradisi memberikan hadiah.

Kado-kado akan diletakan di bawah Pohon Natal tiap rumah, lalu dibuka bersama-sama tepat pada 25 Desember.

Bagi anak-anak kebiasaan ini adalah hal yang paling dinanti. Jenis hadiah yang paling banyak digemari dan diburu di toko-toko masih sama dari tahun ke tahun, yaitu mainan.

Salah satu yang terfavorit adalah LEGO. Tidak tergeser dengan teknologi, mainan dari perusahaan ini 75 tahun terakhir tetap bertengger di lima besar perusahaan mainan terbesar dunia.

Didirikan oleh Ole Kirk Christiansen secara resmi pada 1944. LEGO awalnya tidak terbuat dibuat dari bahan plastic seperti bentuknya sekarang.

Berawal dari perajin kayu

Awalnya, Ole hanyalah seorang tukang kayu sederhana dengan ambisi besar. Ia lahir pada 1891 di desa Filskovand, Denmark, dan merupakan anak kesepuluh dari Jens Niels Christiansen dan Kirstine Christiansen.

Keluarganya cukup miskin, tetapi dia berhasil mengenyam pendidikan sekolah menengah atas. Pada 1905, saat berusia 14 tahun, dia sudah mulai bekerja dan belajar pertukangan.

Pada 1911, dia bekerja ke Jerman selama 5 tahun sebagai tukang kayu. Saat kembali ke Denmark, kecintaannya pada kayu mendorongnya membangun bisnis sendiri pada 1916.

Tokonya semula memproduksi furnitur seperti tangga, bangku, dan papan setrika. Tetapi pada 1924, saat kesuksesan mulai nampak di depan mata, putra-putranya secara tidak sengaja membakar tumpukan serpihan kayu di toko.

Kobaran api menghancurkan seluruh bangunan dan rumah keluarga itu.

Orang lain mungkin menyerah dengan kerugian total yang diderita saat itu. Tetapi Ole melihat api sebagai alasan untuk membangun bengkel yang lebih besar.

Ironisnya, tragedi terus melanda. Pada 1929, kehancuran pasar saham Amerika Serikat menjerumuskan dunia ke dalam depresi. Usahanya tak terlepas dari keterpurukan ekonomi.

Belum habis kesusahannya, istrinya meninggal pada 1932. Karena terpukul oleh bencana pribadi dan keuangan, Ole memberhentikan sebagian besar stafnya dan berjuang untuk memenuhi kebutuhan.

Tidak berhenti berusaha

Tragedi yang terus terjadi, ternyata menuntunnya kepada inovasi bisnis yang membuatnya sukses besar di kemudian hari.

Di masa-masa sulit, Ole memutuskan menggunakan kayunya untuk membuat barang murah yang mungkin bisa laku. Diantaranya adalah mainan murah.

Keputusan itu tidak membuahkan hasil, pada awalnya. Meski bangkrut, Ole menolak berhenti membuat mainan. Usaha terus berjalan meski dengan menggunakan dana pinjaman dari saudara-saudaranya.

Kecintaannya pada mainan mendorong perusahaan itu maju. Bahkan saat perusahaan itu masih belum stabil, perubahan nama dilakukan untuk mencerminkan arah baru usahanya.

Dia memilih nama "LEGO" dari kata Denmark "LEg GOdt" yang berarti "bermain dengan baik". Secara kebetulan, itu juga berarti "disatukan" dalam bahasa Latin.

Perusahaan LEGO awalnya memproduksi mainan kayu. Ole ternyata adalah pembuat mainan yang brilian. Dia akan membuat panduan desain untuk kemudian diikuti karyawannya.

Tak lama kemudian, prototipe untuk model mobil dan hewan, serta mainan tariknya yang menggemaskan, mendapatkan basis penggemar nasional.

Pada pertengahan 1930-an, perusahaan memiliki 42 jenis produk yang berbeda, yang mahal tetapi populer. Perusahaan itu terdaftar pada 1944.

Inovasi produk terus menerus

Pada 1942, ketika Jerman menduduki Denmark, kebakaran lain mengancam mata pencariannya. Sekali lagi seluruh pabriknya terbakar habis.

Tetapi pada saat itu, dia sudah cukup mapan untuk tidak hanya bangkit kembali, tetapi juga untuk melihat ke depan.

Ketika Perang Dunia II berakhir, banyak pabrik manufaktur mulai melihat plastik sebagai alternatif bahan baku yang murah. Salah satunya menggunakan mesin cetakan injeksi plastik.

Namun, karena kekurangan bahan baku, pemerintah Denmark melarang penggunaan komersialnya hingga 1947.

Meskipun ada larangan, Ole membeli mesin cetak injeksi plastik pertama di Denmark pada 1946. Eksperimen sudah mulai dilakukan untuk membuat mainan plastik di pabriknya.

Dia akhirnya diizinkan untuk menggunakan cetakan plastik untuk barang produksinya, pada 1949. Perusahaan tersebut menciptakan produk plastik yang disebut Balok Pengikat Otomatis.

Mainan itu sangat mirip dengan balok LEGO modern. Inspirasi mainan itu datang dari satu set balok yang dapat mengunci sendiri yang ditemukan oleh perusahaan Inggris, Kiddicraft.

Ole dan putranya, Godtfred, membuat perbaikan pada desain mainan Inggris tersebut. Balok plastik mereka, resmi dipasarkan pada 1949. Mainan LEGO menjadi semakin populer seiring berlalunya waktu.

Ole Kirk meninggal pada 1958, tepat saat putranya hampir menggunakan Balok Pengikat Otomatis sederhana sebagai dasar dari "Sistem Permainan" yang lengkap.

Sistem itu dirancang dengan prinsip bahwa semua blok harus saling terkait. Model mainan ini meningkatkan potensi imajinatif anak-anak dan penjualan perusahaan. Sistem ini menjadi dasar LEGO zaman modern.

Sejak 1955, setiap balok LEGO yang diproduksi dapat saling mengunci satu dengan yang lain.

Hanya lima tahun setelah meluncurkan System of Play tersebut, LEGO mengalami kebakaran dahsyat ketiga. Seperti yang pertama, kobaran api ini nyaris menghapus habis pabrik.

Api membakar semua persediaan mainan kayu perusahaan. Perusahaan akhirnya memutuskan membuang kayu untuk selamanya dan melanjutkan dengan plastik.

Hari ini, keputusan itu menghasilkan bisnis besar. Billund, sudah seperti kota Ole Kirk. Tempat itu kini menjadi tujuan wisata, dan LEGO Group telah berkambang menjadi raksasa industri mainan.

Saat ini Lego mempekerjakan lebih dari 5000 orang di seluruh dunia. Produksi mainannya dijual di lebih dari 130 negara.

Tapi itu tidak akan pernah terjadi, tanpa balok sederhana itu, atau kebakaran yang hampir menghancurkan impian sebuah keluarga tiga kali lipat.

[Source: Kompas]