Berawal Dari Sakit Kepala, Leher Wanita Ini Dapat Berputar 180 Derajat

LONDON - Seorang wanita kepalanya dapat berputar hingga 180 derajat tanpa disadari setelah cedera yang dialaminya, sehingga membuat sistem otaknya terganggu.

Sarah Coughlin (37 tahun), dari Fazakerley, Merseyside, Inggris, menyadari kepalanya telah berputar 180 derajat 5 kali setelah mengalami cedera.

Awalnya pihak medis tidak menganggap itu serius dan hanya menganggapnya mengalami salah posisi tidur.

Namun, itu telah berlangsung selama 2 tahun dengan rasa yang menyakitkan ketika kepalanya tanpa disadari berputar 180 derajat, seperti yang dilansir Mirror pada Sabtu (19/12/2020).

Sarah mulanya tidak menyadari ada yang salah dengannya setelah dia mengalami cedera saat bekerja sebagai asisten pengajar pada 2014, menurut laporan Liverpool Echo.

Awalnya di sana Sarah tidak merasakan apa-apa selain sakit kepala yang berlangsung selama sepekan.

Namun 5 hari setelah cedera, ketika Sarah bangun terlambat dan saat dia bergegas ke mobilnya dia menyadari kepalanya telah berputar 180 derajat.

Dia berkata, “Saya bisa merasakan sakit yang membakar melalui bahu dan punggung saya."

Ketika ia menatap baik-baik kaca mobil belakangnya, ia baru sadar kepelanya telah berputar 180 derajat.

“Saya bertanya-tanya mengapa kaca depan mobil saya memiliki garis-garis hitam di atasnya, sampai saya menyadari bahwa saya sedang melihat ke luar jendela belakang saya," kenangnya.

“Cukup sulit untuk mengembalikan posisi kepalanya, tetapi setelah beberapa saat saya berhasil, meskipun rasa sakitnya tidak kunjung hilang," terangnya.

“Saya pikir saya baru saja tidur dengan salah dan begitu saya bangun dengan benar, leher yang sakit mungkin akan membaik. Tetapi, ketika saya mulai bekerja saya masih merasa tidak enak," ujarnya.

Dia pergi ke UGD setiap pekan selama 3 bulan karena sakit kepala yang tidak kunjung hilang dan lehernya masih kejang.

"Saya diberi tahu bahwa itu mungkin saja sendi yang tergelincir, cedera otot, atau posisi tidur yang salah. Itu (diagnosis) berubah-ubah," ujarnya.

Setelah 2 tahun tanpa kepastian penyakit yang diidapnya, ada petugas medis yang menyadari bahwa dia memiliki kondisi otak yang disebut Dystonia.

Pada awalnya hanya mempengaruhi leher, kemudian merembet ke cara jalan Sarah.

Selama setahun ia mengalami kejang, neuralgia optik, tekanan pada saraf oksipital yang mengalir melalui leher hingga ke kulit kepala, menyebabkan tremor, kejang, kelumpuhan, dan kelelahan.

“Saya menderita kesakitan terus-menerus,” ungkapnya.

Dystonia menyebabkan kejang otot yang tidak disengaja, itulah sebabnya kepala Sarah bisa berputar 180 derajat.

Dokter juga memberi tahu dia bahwa dia menderita Gangguan Neurologis Fungsional (FND).

Itu adalah nama yang diberikan untuk berbagai gejala neurologis yang tidak dapat dijelaskan secara medis, yang tampaknya disebabkan oleh masalah pada sistem saraf, tetapi tidak disebabkan oleh penyakit fisik.

Sarah tidak bisa lagi mengemudi atau melakukan pekerjaan yang dia sukai, dia juga tidak bisa mengambil bagian dalam kegiatan sosial yang sama seperti sebelumnya.

Ini berarti dia kehilangan kontak dengan banyak temannya dan hampir tidak meninggalkan rumah, karena dia takut orang-orang menatapnya dan menilai dia dari cara dia berjalan dan bergerak.

Wanita berusia 37 tahun itu menambahkan, “Saya dulu sangat mandiri, jadi beralih dari melakukan begitu banyak hal menjadi tidak dapat melakukan apa pun adalah transisi yang paling sulit."

"Saya benar-benar merasakan kehilangan nyawa yang saya alami saat pertama kali didiagnosis."

[Source: Kompas]